07
Jul
08

Karpet Bunga Tomohon

Karpet bunga tomohon

Karpet bunga tomohon

(Artikel Dikutip dari Jawa Pos)

Minggu pagi hujan mengguyur kota Tomohon yang dingin. Kabut tipis yang turun menyebabkan tubuh menggigil. Namun, cuaca tak bersahabat itu tidak membuat warga yang berkumpul di Lapangan Rindam beranjak dari tempatnya. Maklum, lapangan di belakang kantor lama wali kota itu terlihat cantik dengan warna alami merah, oranye, dan kuning. Itu adalah warna hamparan karpet raksasa yang terbuat dari bunga.

”Wah, sudah jadi, jo. Bagus sekali,” kata seorang pengunjung yang terlihat beberapa kali menjepretkan kamera ke arah hamparan karpet bunga.

Meski pembuatannya dikebut sejak Sabtu siang, pagi itu masih ada tiga petak yang belum terisi bunga. Hujan pagi itu menjadi salah satu kendala. ”Pembuatannya dikebut sampai jam dua dini hari. Hanya menyisakan tiga petak itu,” kata Laurens Bulo, sekretaris umum panitia Tomohon Flowers Festival (TFF) 2008 yang ikut lembur, kepada Jawa Pos kemarin.

Kemarin adalah hari terakhir pelaksanaan TFF 2008. Karpet bunga itu diharapkan menjadi momen penutup yang sempurna. Namun, adanya kendala cuaca itu menyebabkan hanya tinggal delapan orang yang bertahan menyusun bunga di tengah rintik hujan. ”Kami sewa tenaga upah untuk menuntaskannya,” kata Belu.

Luas karpet bunga itu 79 x 50 meter. Untuk bisa menutup lahan seluas itu dibutuhkan sekitar 7 juta kuntum bunga dari jenis marry gold dan aster. Karena waktu yang tersisa saat penutupan tinggal sehari, sekitar 500 orang dikerahkan untuk mengerjakannya. Tomohon yang berada sekitar 25 kilometer dari Manado, ibu kota Sulawesi Utara, tidak mempunyai industri ataupun perusahaan besar. Karena itu, pemkot mengerahkan para pegawai negeri sipil (PNS) untuk pekerjaan tersebut. Mereka berasal dari 14 dinas Kota Tomohon, ditambah dengan badan pemerintah, dan para pegawai kecamatan. Itu pun ditambah dengan tenaga upah dan para sukarelawan yang berasal dari masyarakat.

Ratusan tenaga itu berdatangan sejak Sabtu pukul dua siang. Mereka dikelompokkan dalam zona-zona sesuai dengan instansi. Setiap instansi bertanggung jawab mengisi zona dengan bunga. ”Zoning ini memudahkan pengerjaan sekaligus pembagian warna,” jelas Belu. Luas masing-masing zona bervariasi. Kisarannya 5 x 10 meter, namun ada juga yang kebagian lebih dari itu. Masing-masing zona dikerjakan lebih dari 10 orang.

Supaya pengerjaan bisa cepat, mereka berbagi tugas. Ada yang memetik kuntum-kuntum bunga dari batang pohon. Ada yang kebagian menancapkan kuntum-kuntum bunga ke tanah. Bunga-bunga itu memang tidak disebar begitu saja. Kelopaknya harus menghadap ke atas (agar warnanya terlihat). Selain itu, bagian tangkai menancap ke tanah agar tidak mudah diterbangkan angin.

Mengingat, tenaga pembuatnya terbatas, tiap instansi yang telah menyelesaikan tugas diimbau membantu tugas instansi yang lain. Tidak heran bahwa kegiatan tersebut memaksa mereka pulang hingga larut. Olivia Theodore, misalnya, salah seorang sukarelawan, sampai harus membawa anak ke tengah lokasi.

”Nggak ada yang jaga di rumah. Jadi, saya bawa saja,” kata perempuan yang sehari-hari berdinas di sekretariat Pemkot Tomohon itu.

Dengan tenaga sebanyak itu, seharusnya pengerjaan karpet bunga bisa diselesaikan secara cepat. Hal tersebut tidak terwujud lantaran banyaknya turis yang berdatangan. Lokasi penuh sesak sehingga para relawan tidak fokus menjalankan tugas.

Pembuatan karpet bunga tersebut sejatinya tidak termasuk dalam agenda kegiatan resmi TFF 2008. Ide itu dilontarkan Wali Kota Tomohon Jefferson S.M. Rumajar sebagai solusi untuk membeli kelebihan produksi bunga dari para petani Tomohon. Maklum, tak semua bunga hasil jerih payah petani termanfaatkan pada even TFF 2008. Ribuan pohon bunga mangkrak sehingga tidak sedikit petani yang kecewa.

”Ini juga sebagai bentuk penghargaan terhadap semangat para petani yang telah menanam bunga,” ujar Jimmy Matindas dari Sesi Pameran, Bursa, dan Lomba TFF 2008.

Untuk festival yang menjadi agenda tahunan tersebut, Pemkot Tomohon membeli bunga langsung ke para petani. Yakni, petani bunga datang ke kelurahan untuk melaporkan jumlah pohon bunga yang dipunyai. Petugas lantas mengecek ke lapangan. Bila sesuai, transaksi langsung dilaksanakan.

”Cara ini dilakukan juga untuk menghidari intervensi dari pihak luar. Jadi, seluruh bunga yang digunakan hasil panen petani Tomohon,” kata Jimmy.

Meski begitu, lanjut Jimmy, tidak seluruh hasil kebun bunga petani terbeli. Karpet bunga itu hanya membutuhkan tujuh juta kuntum bunga. Sisa hasil produksi seluruh petani mencapai sembilan juta bunga. ”Pasti ada bunga yang tidak terpakai,” kata Jimmy.

Meski demikian, pemerintah tetap mengusahakan agar setiap petani kebagian jatah. ”Katakanlah ada petani yang punya 25 ribu pohon bunga, yang dibeli mungkin sekitar 16 ribu. Supaya petani yang lain juga kebagian. Jadi merata,” katanya.

Untuk keperluan bunga tersebut, pemkot menyiapkan dana Rp 300 juta dengan pembelian Rp 400 bunga per pohon. Jimmy meyakinkan penetapan harga itu tidak merugikan petani. Itu sudah berdasar analisis lahan dan biaya produksi. ”Misalnya, begini, lahan 1 hektare dengan jarak tanam 30 x 40 cm akan menghasilkan 60 ribu pohon bunga,” jelas Jimmy.

”Jika diberikan harga Rp 400, setiap hektare petani sudah meraup Rp 24 juta. Mereka tetap bisa untung karena biaya produksi mereka Rp 7 juta,” tambah Jimmy.

Karena luasnya ukuran karpet bunga itu, Pemkot Tomohon akan mencatatakan dalam Musium Rekor Indonesia (Muri) sebagai karpet bunga terbesar. ”Tapi, pihak Muri mengusulkan untuk mencatatkan dalam Guinness World Records untuk rekor yang sama,” kata Belu, yang juga menjabat kepala Bappeda Kota Tomohon itu.

Belu bangga karpet bunga kemarin memecahkan rekor karpet bunga yang dibuat dalam Horti Fair di Amsterdam, Belanda, pada tahun sebelumnya. Untuk keperluan itu, kemarin perwakilan Muri telah melakukan pengukuran. ”Penyerahan piagam Muri akan diberikan pada 8 Juli besok. Jaya Suprana (pimpinan Muri) akan datang melihat langsung ke sini,” kata Belu.

Meski terbilang ide mendadak, banyak masyarakat yang merespons positif. Tak sedikit pelancong yang kemarin datang ke Tomohon hanya untuk melihat karpet bunga tersebut. ”Saya baca koran bahwa ada pembuatan karpet bunga. Saya penasaran ingin lihat,” ujar Safiah, pelancong dari Manado, yang datang bersama rombonan keluarga.

Selain turis lokal, kreativitas itu menarik perhatian turis asing. Jeroen Serre yang asal Belanda menyatakan, di negaranya pembuatan karpet bunga seperti itu memang bukan hal baru. ”Memang, agak berbeda. Di Belanda bunga yang digunakan beragam. Di sini hanya aster dan merry gold. Tapi, bagus sekali,” katanya.


0 Responses to “Karpet Bunga Tomohon”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: