Archive for July 28th, 2008

28
Jul
08

Gerhana Matahari Total Awal Agustus

Awal Agustus, tepatnya 1 Agustus 2008, akan menjadi hari libur wajib bagi mereka yang ingin menyaksikan gerhana matahari total.

Menurut laporan yang dirilis BBC, gerhana matahari kali ini merupakan yang pertama dalam dua setengah tahun terakhir di bumi. Sementara bagi warga Kanada, fenomena ini akan menjadi yang pertama sejak gerhana matahari total melintasi negara itu pada 26 Februari 1979.

“Bayangan umbra Bulan akan melintas dari Kanada, kemudian menuju Greenland bagian Utara, Arktik, Rusia bagian tengah, Mongolia, dan berakhir pada saat matahari terbenam di China. Gerhana Matahari sebagian dapat terlihat pada lintasan yang lebih lebar dari bayangan penumbral bulan, yang meliputi Amerika Utara, serta sebagian besar wilayah Eropa dan Asia,” tulis BBC.

Yang menarik, bagi warga Negeri Tirai Bambu, fenomena alam ini terjadi hanya sehari jelang pelaksanaan Olimpiade Beijing. Sejumlah pihak di China menganggap gerhana matahari total kali ini menjadi semacam kado indah bagi rakyat China.

“Ini momen yang sangat langka bagi warga China. Kami senang menyambutnya,” kata sejumlah warga Beijing. Para pakar astronomi memperkirakan gerhana akan dimulai pada pukul 09.23 UT (06.23 WIB) dan berakhir pada 11.20 UT (18.20 WIB). Sementara puncak gerhana terjadi pada 10.21:07 UT (17.21:07 WIB) ketika matahari berada di atas koordinat 65 derajat Lintang Utara (LU)?72 derajat Bujur Timur (BT), selama dua menit 27 detik.

Selama lebih dari dua jam, umbra bulan akan melintasi jarak sepanjang 10.200 km, yang meliputi 0,4 persen area permukaan bumi. Gerhana matahari terjadi ketika posisi Bulan terletak di antara bumi dan matahari sehingga menutup sebagian atau seluruh cahaya matahari. Walaupun bulan lebih kecil, bayangan bulan mampu melindungi cahaya matahari sepenuhnya karena bulan yang berjarak rata-rata jarak 384.400 km dari bumi lebih dekat dibandingkan matahari yang mempunyai jarak rata- rata 149.680.000 km.

Menurut para ilmuwan, gerhana matahari dibagi dalam tiga jenis, yakni gerhana total, gerhana sebagian, dan gerhana cincin. Gerhana matahari total terjadi saat puncak gerhana, piringan matahari ditutup sepenuhnya oleh piringan bulan. Saat itu piringan bulan sama besar atau lebih besar dari piringan matahari. Ukuran piringan matahari dan piringan bulan sendiri berubah-ubah bergantung pada masing-masing jarak bumi-bulan dan bumi- matahari.

Sementara gerhana sebagian terjadi apabila piringan bulan (saat puncak gerhana) hanya menutup sebagian dari piringan matahari. Pada gerhana ini, selalu ada bagian dari piringan matahari yang tidak tertutup piringan bulan. Adapun gerhana cincin terjadi apabila piringan bulan (saat puncak gerhana) hanya menutup sebagian dari piringan matahari. Guna menghindari kebutaan, orang dilarang melihat ke arah matahari dengan mata telanjang.

Melihat secara langsung ke fotosfer matahari (bagian cincin terang dari matahari) walaupun hanya dalam beberapa detik dapat mengakibatkan kerusakan permanen retina mata karena radiasi tinggi yang tak terlihat yang dipancarkan dari fotosfer.

Mengamati gerhana matahari membutuhkan pelindung mata khusus atau dengan menggunakan metode melihat secara tidak langsung. Kaca mata jenis sunglasses tidak aman karena tidak bisa menyaring radiasi inframerah yang dapat merusak retina mata.(Sumber : okezone.com)

28
Jul
08

AREMA 0 v 2 PELITA JAYA

Aremania

Aremania

Arema Frustasi

Dua kemenangan yang dihasilkan Arema di kandang lawan melambungkan kepercayaan diri pemain Arema Malang. Singo Edan -julukan Arema- pun diprediksi menang saat melakoni laga home pertama Indonesia Super League (ISL) di Stadion Kanjuruhan kemarin (27/7). Namun, alih-alih menang, Arema yang tampil di hadapan puluhan ribu pendukungnya itu justru dipermalukan Pelita Jaya dengan skor 0-2 (0-0).

Hasil buruk tersebut berbalik 180 derajat dengan kedigdayaan Arema ketika mengalahkan Persita Tangerang 2-0 (12/7) dan Persijap Jepara 2-1 (19/7). Setelah tampil gemilang pada dua laga away, Emile Bertrand Mbamba dkk justru antiklimaks saat tampil di kandang. Dukungan penonton belum mampu mengangkat mental tanding pemain Arema.

Sebaliknya, pemain Pelita justru tampil begitu rileks dan berhasil memanfaatkan kondisi mental pemain Arema yang terbebani target menang. Dua gol kemenangan Pelita dicetak pemain asal Brazil, Christian Lopez, masing-masing pada menit ke-61 dan 87.

Pada babak pertama Arema praktis menguasai jalannya pertandingan. Tekanan terus dilakukan ke jantung pertahanan Pelita. Serangan bergelombang itu mudah dipatahkan lini belakang Pelita, apalagi kiper Dian Agus tampil mengesankan dengan menggagalkan serangan Arema. Serge dan Mbamba tidak memiliki ruang gerak yang leluasa melepaskan tembakan karena kawalan ketat lini belakang Pelita.

Alur serangan Arema tidak berjalan lancar, karena para pemain gelandang kalah bersaing dengan lini tengah Pelita. Pelatih Fandi Ahmad beruntung memiliki play maker cerdik seperti Firman Utina. Pemain bernomor punggung 15 itu mampu menunjukkan permainan terbaiknya, sama seperti saat dia masih memperkuat Arema. Aksi individu maupun kemampuannya mengorganisir serangan sangat prima sehingga membuat lini tengah Arema kedodoran. Benson dan Suoulaiman Troure tak mampu menandingi mobilitas Utina.

Kendalan lini tengah itu benar-benar dimanfaatkan Pelita untuk menoba mencuri gol pada babak kedua. Mereka tampaknya sudah tahu titik lemah Arema. Selain lini tengah yang di bawah form, lini belakang juga menjadi titik lemah. Sektor bek kiri benar-benar diincar Pelita untuk terus ditekan. Gol pertama berawal dari aksi Utina yang menggiring bola dari tengan yang kemudian memberi assist kepada Lopes yang menyambut di sektor kiri Arema. Dari sudut sempit, Lopes melepaskan tembakan keras yang tak mampu dihadang kiper M Yasir.

Nasib Yasir juga dialami penggantinya Kurnia Meiga yang harus memungut bola dari gawangnya setelah Lopes mampu melepaskan diri dari jebakan offside. Sontekan Lopes tak mampu diantisipasi Meiga yang merubah kedudukan menjadi 0 – 2. Tak lama setelah itu, pertandingan pun usai, dan Arema mendapat aib di kandang sendiri.

Tapi Aremania tampil beda di Stadion Kanjuruhan, Malang, kemarin (27/7). Tidak ada atribut Aremania yang mereka kenakan. Beragam spanduk dan atribut lain berwarna biru yang menjadi ciri khas pendukung Arema itu juga tak terlihat. Sebaliknya, justru bendera merah putih yang berkibar. Mayoritas Aremania memilih mengenakan kaus hitam. Sebagai tanda Aremania berduka atas sanksi dari Komisi Disiplin (Komdis) PSSI yang melarang masuknya atribut Aremania ke dalam stadion. Sanksi tersebut dijatuhkan setelah kerusuhan di Stadion Brawijaya, Kediri, melibatkan anggota Aremania pada babak delapan besar Liga Indonesia musim lalu.

Apa yang disajikan oleh Aremania kemarin diapresiasi oleh Direktur Kompetisi Badan Liga Sepak Bola Indonesia (BLI) Joko Driyono. Kebetulan, dia hadir langsung di Stadion Kanjuruhan untuk menyaksikan pertandingan antara Arema melawan Pelita Jaya.